Evaluasi Terapi Obat pada Pasien Sepsis Neonatal Di Ruang Perinatologi RSUP Fatmawati Januari– Februari Tahun 2016

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Setianti Haryani
Yusna Fadlyyah Apriyanti

Abstract

Sepsis neonatal merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir. Pemberian antibiotika yang sesuai merupakan salah satu kriteria dalam tata laksana sepsis. Kesulitan mendapatkan hasil kultur berupa jenis bakteri dan uji kepekaan antibiotika dengan segera menyebabkan masalah pada pemilihan jenis, waktu dan lama pemberian antibiotika, sehingga pemberian antibiotika hanya berdasarkan empiris yang berpotensi menimbulkan resistensi dikemudian hari. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi terapi obat pada pasien sepsis neonatal di ruang perina. Kajian dilakukan dengan cara observasi dan pencatatan langsung dari rekam medik pasien serta hasil wawancara. Sebanyak 42 sampel dilakukan pemantauan terapi obat. Karakteristik dominan bayi yang mengalami sepsis di ruang perina adalah 61,9% bayi laki-laki, terdapat 59,5% persalinan non spontan, dengan umur kehamilan 64,3% prematur, BBLR 69,1% dan 81% sepsis awitan dini. Hasil laboratorium sangat signifikan ditunjukkan oleh bayi yang mengalami sepsis neonatal di ruang perina adalah trombositopenia (76,2%), leukositosis (66,7%), peningkatan C-Reactive Protein (CRP) (54,7%), leukositopenia (7,1%), dan immature (IT Ratio) ≥0,2 (4,7%). Kuman/Bakteri yang muncul pada hasil kultur kebanyakan bakteri gram negatif yaitu Enterobacter aerogenes (5), Klebsiella sp (3), Acinotebacter baumanii


 


(2), Bukholderia cepacia (2), Serratia sp (1) dan bakteri gram positif yaitu Staphylococcus epidermidis (2). Penggunaan antibiotika terbanyak pada pasien sepsis neonatal di ruang Perina adalah antibiotik kombinasi Amoksisillin dan Gentamisin sebagai pengobatan lini pertama yaitu sebanyak 38 pasien, diikuti tahap lini kedua penggunaan kombinasi Cefotaksim dan Mikasin (25 pasien) atau Fosfomycin Na (1 pasien), dan lini ketiga penggunaan Ceftazidim (14 pasien) atau Meropenem (12 pasien).


Kata kunci : sepsis neonatal, antibiotika, BBLR, CRP


 

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

References

1. Apriliana, E., Rukmono, P., Erdian, D. N., Tania, F., Unila, B. M. F., Unila, B. I., K. A. F., & Unila, P. D. F. (2013, November). Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum dan Pola Kepekaannya Terhadap Antibiotika. In Seminar Nasional Sains dan Teknologi V Lembaga Penelitian Universitas Lampung 19-20 November 2013.
2. Departemen Kesehatan. 2007. Penatalaksanaan Sepsis Neonatorum
3. Formularium RSUP Fatmawati Edisi VII. 2014
4. IDAI . 2010. Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama.
5. Juniatiningsih, A., Aminullah, A., & Firmansyah, A. (2008). Profil mikroorganisme penyebab sepsis neonatorum di Departemen IlmuKesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sari pediatri,10, 60-5.
6. Kementerian Kesehatan RI, Bina Kefarmasian, and Alat Kesehatan.
2015. Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik
7. Mayetti, I. I. (2010). Pola bakteriologis dan uji sensitivitas pada sepsis neonatorum awitan dini. Sari pediatri, 11, 326-9.
8. Mendoza, U.A., 2000. Sepsis Neonatorum at Manila Central University Filemon D, Tanchoco Med Foundation (CU-FDTMF). Calacoon City.Manila.
9. Peraturan Mentri Kesehatan 2406/MENKES/PER/XII/2011.
10. Putra, P.J. 2012. insiden dan faktor-faktor yang berhubungan dengan sepsis neonatus di RSUP Sanglah Denpasar. Sari pediatri, 14(3),205-210
11. Sianturi, P., Hasibuan, B. S., Lubis, B. M., Azlin, E., & Tjipta, G. D. (2013). Gambaran Pola Resistensi Bakteri di Unit Perawatan Neonatus. Sari Pediatri, 13, 431-6.
12. Sulistijono, E., & RVC, B. I. (2013). Faktor risiko sepsis awitan dini pada
neonatus. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 27(4), pp-232.
13. Surasmi, Asrining, dkk. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta: EGC.
14. The International Sepsis Definition Conferences . 2001
15. Wahyuningsih, R., Rozalyani, A., El Jannah, S. M., Amir, I., & Prihartono, J. (2008). Kandidemia pada neonatus yang mengalami kegagalan terapi antibiotik. Majalah Kedokteran Indonesia, 58(4), 110-115.
16. Wibowo S.,2007. Perbandingan kadar bilirubin neonatus dengan dan tanpa
defisiensiglucose-6-phosphate dehydrogenase, infeksi dan tidak infeksi. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang: 43-4
17. Wijayanto, D., Amir, I., Wahyuningsih, R., & Windiastuti, E. 2009. Prevalens dan Sebaran Faktor Risiko Mikosis Sistemik pada Neonatus dengan Sepsis Awitan Lambat di RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Sari Pediatri 2009;11(4):229-37